Presiden Prabowo Subianto menyatakan sikap terbukanya terhadap kritik dan tidak ragu untuk melakukan evaluasi mandiri terhadap kebijakan pemerintahannya, terutama dalam menanggapi kekhawatiran masyarakat mengenai isu kebangkitan militerisme. Saat berbicara dalam Perayaan Natal Nasional 2025 di Jakarta, Presiden menekankan bahwa kritik merupakan mekanisme kontrol yang penting untuk mencegah kepemimpinan berubah menjadi otoriter. Beliau justru merasa bersyukur jika ada pihak yang berteriak memberikan koreksi, karena hal tersebut menjadi pengingat bagi dirinya untuk kembali mengkaji setiap keputusan bersama para ahli hukum agar tetap sesuai dengan koridor demokrasi.
Sebagai gambaran nyata mengenai pentingnya koreksi, Presiden membagikan pengalamannya sejak masih aktif berdinas di militer hingga saat menjadi kepala negara, di mana ia sering diingatkan oleh ajudan atau bawahannya mengenai detail kecil yang terlewat. Contoh sederhana seperti kancing seragam yang belum terpasang atau tanda pangkat yang lupa dikenakan menjadi bukti bagi beliau bahwa masukan dari orang sekitar adalah bentuk perlindungan nyata. Meskipun terkadang merasa sedikit terganggu dengan ketelitian ajudannya yang cerewet, Prabowo menyadari sepenuhnya bahwa tindakan tersebut dilakukan demi menjaga kehormatan dan keselamatan dirinya di hadapan publik.
Kendati sangat menyambut baik kritik yang tajam sekalipun, Presiden Prabowo memberikan garis pembatas yang jelas bahwa dirinya tidak bisa mentoleransi fitnah maupun penyebaran kebohongan di tengah masyarakat. Beliau menegaskan bahwa fitnah memiliki dampak destruktif yang dapat memicu kecurigaan, kebencian, hingga perpecahan bangsa yang merusak stabilitas nasional. Mengutip prinsip-prinsip universal dari berbagai agama, Presiden mengingatkan bahwa kebohongan yang sengaja diciptakan untuk memecah belah jauh lebih berbahaya daripada kritik keras, karena kejujuran adalah fondasi utama dalam menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia. Dikutip dari Antaranews.com







