Jakarta – PT Kereta Api Indonesia (KAI) belum memastikan kapan layanan KRL Jabodetabek akan beroperasi 24 jam penuh. Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, mengatakan wacana ini menarik dari sisi pelayanan, namun perlu kajian mendalam sebelum diterapkan.
Bobby menekankan pentingnya pengecekan rutin sarana, prasarana, dan sistem kelistrikan jalur kereta. Tanpa jeda pemeriksaan, risiko gangguan teknis dapat meningkat. Ia mencontohkan insiden layangan yang sempat menghentikan kereta cepat Whoosh, dan menilai risiko serupa bisa lebih besar pada jaringan KRL yang lebih luas.
KAI menyatakan kajian akan dilakukan bersama Kementerian Perhubungan, mencakup keselamatan, operasional, dan kenyamanan penumpang. Bobby menegaskan tiga aspek utama yang menjadi perhatian: keselamatan, perawatan sarana-prasarana, dan kenyamanan pelanggan.
Sebelumnya, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi juga menyebut perlunya pengkajian mendalam terkait operasional KRL 24 jam. Kajian tersebut mempertimbangkan kebutuhan penumpang, kenyamanan, dan biaya operasional. Diskusi ini muncul setelah fenomena sejumlah karyawan menginap di Stasiun Cikarang menjadi sorotan publik.
Dengan demikian, layanan KRL 24 jam masih dalam tahap kajian menyeluruh, di mana keselamatan, operasional, dan kenyamanan penumpang menjadi prioritas utama sebelum keputusan diambil. Dikutip dari RRI.co.id





