Jakarta – Presiden Prabowo Subianto melontarkan kritik pedas terkait regulasi yang membatasi ruang gerak audit pada lini anak dan cucu perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Dalam arahannya pada HUT ke-1 Badan Pengelola Investasi Danantara, Rabu, Presiden mengungkapkan keheranannya terhadap aturan yang seolah memberikan celah bagi cucu perusahaan negara untuk menghindari pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), sementara induk usahanya wajib diaudit secara ketat.
Presiden Prabowo mengaku terkejut saat mengetahui bahwa entitas besar seperti Pertamina memiliki hingga 200 anak dan cucu perusahaan. Beliau mempertanyakan dasar hukum yang melarang negara melakukan audit terhadap unit bisnis turunan tersebut. Bagi Presiden, keberadaan aturan “aneh” ini sangat berisiko menciptakan potensi penyimpangan dan kebocoran kekayaan negara yang seharusnya dapat dikelola secara lebih transparan melalui satu manajemen yang rasional.
Sebagai solusi, Presiden meyakini bahwa konsolidasi BUMN di bawah naungan Danantara adalah langkah tepat untuk menerapkan standar pengelolaan terbaik dunia. Prabowo menekankan bahwa kunci dari manajemen yang baik bukan hanya soal angka, melainkan integritas dan hati yang bersih dari para pengelolanya. Beliau menargetkan Danantara untuk mampu memberikan Return on Asset (RoA) yang signifikan demi menambah setoran kas negara hingga angka yang fantastis.
Dalam target jangka panjangnya, Presiden menantang pimpinan Danantara untuk mencapai RoA minimal 10 persen. Jika Danantara mampu mencapai angka 5 persen saja, negara diprediksi bisa menerima setoran hingga 50 miliar dolar AS atau setara Rp800 triliun per tahun. “Sasaranmu masih jauh,” tegas Presiden kepada jajaran petinggi Danantara, mengingatkan bahwa efisiensi dan transparansi audit hingga ke tingkat cucu perusahaan adalah harga mati untuk mencapai target ekonomi nasional tersebut. Dikutip dari Antaranews.com






