Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Jumat (27/2/2026) dibuka melemah 0,29 persen ke level 8.211,31. Pelemahan ini dipicu oleh aksi profit taking investor jelang akhir pekan di tengah tekanan sentimen fiskal domestik. Pasar merespons negatif peringatan S&P Global Ratings terkait kenaikan beban bunga utang pemerintah yang berisiko melampaui ambang batas 15 persen dari pendapatan negara. Ditambah dengan laporan defisit APBN Januari 2026 sebesar Rp54,6 triliun, pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati meskipun permintaan terhadap global bonds Indonesia masih tercatat solid.
Tekanan pada indeks semakin diperberat oleh faktor teknikal terkait rebalancing indeks MSCI yang mulai berlaku efektif setelah penutupan perdagangan hari ini. Perubahan komposisi ini melibatkan saham-saham besar seperti INDF yang berpindah kategori dari MSCI Global Standard ke MSCI Small Cap, sementara saham ACES dan CLEO keluar dari daftar Small Cap. Kondisi ini membuat arus dana keluar (outflow) jangka pendek menjadi lebih rentan, terutama saat investor global juga tengah mengamati perkembangan volatilitas di bursa regional Asia yang mayoritas bergerak di zona merah.
Dari sisi eksternal, ketidakpastian kebijakan moneter The Fed dan isu geopolitik global turut membayangi pergerakan pasar modal. Investor global mulai mempertanyakan efisiensi belanja modal besar di sektor kecerdasan buatan (AI) serta menanti kepastian tarif dagang Amerika Serikat yang baru. Kombinasi antara risiko domestik dan fluktuasi Wall Street ini membuat IHSG diproyeksikan masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah terbatas selama sesi perdagangan berlangsung hingga penutupan pasar sore nanti. Dikutip dari Antaranews.com







