JAKARTA – Nilai tukar rupiah berbalik melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Rabu, 22 April 2026, setelah sebelumnya sempat menunjukkan penguatan. Berdasarkan data Bloomberg, mata uang garuda dibuka pada posisi Rp17.161 per dolar AS atau terkoreksi 0,11 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Analis Pasar Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pergerakan rupiah saat ini cenderung berkonsolidasi seiring sikap hati-hati para pelaku pasar yang sedang menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) terkait kebijakan suku bunga acuan bulan ini.
Meskipun indeks dolar AS terpantau melandai ke level 98,35, sentimen negatif masih membayangi pasar akibat ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah setelah Teheran menolak kembali ke meja perundingan dengan Washington. Kondisi eksternal yang sulit diprediksi ini membuat investor lebih memilih posisi wait and see sembari memantau asesmen bank sentral terhadap kondisi ekonomi terkini. Analis memperkirakan fluktuasi rupiah sepanjang hari ini akan berada di kisaran Rp17.100 hingga Rp17.200 per dolar AS, bergantung pada proyeksi stabilitas moneter yang akan disampaikan oleh otoritas terkait.
Di sisi lain, para ekonom dari Mirae Asset Sekuritas memperkirakan Bank Indonesia akan tetap mempertahankan suku bunga di level 4,75 persen guna menjaga stabilitas nilai tukar di tengah volatilitas global. Upaya menarik aliran dana asing ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) terus diperkuat meskipun risiko inflasi berbasis energi masih membatasi ruang pelonggaran kebijakan. Meskipun terdapat tekanan eksternal, penurunan Credit Default Swap (CDS) Indonesia ke level 81 mencerminkan perbaikan persepsi risiko investor terhadap ketahanan ekonomi domestik. Dikutip dari RRI.co.id







