Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada periode Januari 2026 mencatatkan surplus sebesar 0,95 miliar dolar AS. Pencapaian positif ini didorong oleh nilai ekspor yang mencapai 22,16 miliar dolar AS, sementara nilai impor tercatat sebesar 21,20 miliar dolar AS. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan dalam konferensi pers di Jakarta pada Senin (2/3/2026) bahwa kinerja ekspor nasional mengalami pertumbuhan sebesar 3,39 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Peningkatan nilai ekspor pada awal tahun ini ditopang kuat oleh sektor nonmigas, terutama dari sektor industri pengolahan. Sektor ini mencatatkan kenaikan ekspor yang signifikan sebesar 8,19 persen (yoy) dengan kontribusi peningkatan mencapai 6,54 persen terhadap total ekspor. Meskipun neraca dagang tetap surplus, BPS juga menyoroti adanya lonjakan pada sisi impor yang tumbuh sebesar 18,21 persen (yoy). Kenaikan impor ini didominasi oleh komoditas nonmigas yang memberikan andil sebesar 14,4 persen dari total keseluruhan impor nasional.
Surplus neraca perdagangan di awal 2026 ini menjadi sinyal positif bagi ketahanan ekonomi domestik di tengah dinamika pasar global. Pertumbuhan pada industri pengolahan menunjukkan bahwa hilirisasi dan produktivitas manufaktur dalam negeri tetap terjaga. Pemerintah dan pelaku industri diharapkan terus memperkuat penetapan pasar ekspor nonmigas guna mengimbangi laju impor yang meningkat, sehingga stabilitas neraca perdagangan dapat terus dipertahankan pada bulan-bulan berikutnya. Dikutip dari Antaranews.com







