JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan I-2026 tumbuh solid sebesar 5,61 persen secara tahunan (year-on-year). Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, mengungkapkan bahwa fundamental ekonomi nasional yang kokoh ini utamanya ditopang oleh kuatnya aktivitas konsumsi rumah tangga, ekspansi investasi, serta percepatan stimulus belanja pemerintah di awal tahun. Dari sisi lapangan usaha, geliat ekonomi domestik ini dipimpin oleh sektor transportasi dan pergudangan yang melesat tumbuh tertinggi hingga 8,04 persen, disusul sektor perdagangan sebesar 6,26 persen.
Konsumsi rumah tangga kembali menjadi motor penggerak utama dengan menyumbang lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB), yakni sebesar 54,38 persen, setelah mencatatkan pertumbuhan 5,52 persen. Amalia menjelaskan bahwa daya beli masyarakat sepanjang Januari hingga Maret 2026 ini tetap terjaga berkat tingginya mobilitas selama momen Ramadan dan Idul Fitri. Sentimen positif ini turut mendorong peningkatan transaksi pada sektor ritel, transportasi, perhotelan, hingga pos ekonomi digital selama periode libur panjang tersebut.
Selain konsumsi, sektor investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) juga tumbuh impresif sebesar 5,96 persen, didorong oleh lonjakan impor barang modal yang mencapai 14,27 persen serta pertumbuhan realisasi PMA dan PMDN sebesar 7,2 persen. Sinyal positif perekonomian di era Presiden Prabowo ini semakin diperkuat oleh lonjakan belanja modal pemerintah yang tumbuh fantastis sebesar 36,7 persen, menghasilkan pertumbuhan konsumsi pemerintah hingga 21,81 persen. Kebijakan stimulus fiskal yang cair lebih awal ini sukses memberikan efek pengganda (multiplier effect) sekaligus membentengi ekonomi RI di tengah ketidakpastian global. Dikutip dari Antaranews.com







