Jakarta – Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) tengah mengakselerasi pemanfaatan Compressed Natural Gas (CNG) dan pengembangan Mini-Liquefied Natural Gas (LNG) sebagai solusi energi rumah tangga masa depan. Anggota Komite BPH Migas, Fathul Nugroho, menyatakan bahwa langkah strategis ini bertujuan untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menekan angka impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) yang saat ini telah mencapai 81 persen dari total kebutuhan masyarakat. Dengan mengoptimalkan stasiun induk CNG dan infrastruktur mini LNG, masyarakat akan memiliki pilihan sumber energi yang lebih beragam, aman, dan efisien di luar penggunaan tabung elpiji konvensional.
Upaya diversifikasi energi ini juga selaras dengan visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan swasembada energi nasional. Fathul menjelaskan bahwa CNG memiliki fungsi yang serupa dengan LPG namun lebih bersih, di mana saat ini pemanfaatannya sudah mulai masif di sektor komersial seperti hotel dan restoran. Melalui target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, pemerintah memproyeksikan pembangunan jaringan gas bumi (jargas) untuk rumah tangga hingga 350 ribu sambungan rumah (SR). Kehadiran CNG dan LNG diharapkan mampu mengisi celah distribusi di wilayah yang belum terjangkau pipa gas konvensional.
Untuk mengejar target tersebut, BPH Migas mendorong percepatan regulasi dan skema pembiayaan Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), khususnya untuk pembangunan infrastruktur di wilayah Indonesia Timur. Salah satu strategi utama yang diusulkan adalah mengonversi Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) menjadi stasiun induk (mother station) guna memperluas jangkauan jargas non-pipa. Dengan dukungan investasi yang tepat dan regulasi yang akomodatif, potensi gas alam Indonesia yang melimpah diharapkan dapat segera dinikmati langsung oleh masyarakat demi mewujudkan kemandirian energi yang berkelanjutan. Dikutip dari Antaranews.com







