JAKARTA – Penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) dinilai menjadi solusi kunci untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG yang kini mencapai 84 persen dari kebutuhan nasional. Guru Besar FEB UI, Telisa Aulia Felianty, mengungkapkan bahwa optimalisasi gas domestik melalui CNG berpotensi menghemat anggaran negara hingga Rp130 triliun. Dalam dialog Pro3 RRI pada Jumat (8/5/2026), ia menekankan bahwa langkah ini sangat mendesak mengingat beban subsidi LPG yang terus membengkak dan membebani devisa negara akibat fluktuasi harga global.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menyebutkan bahwa biaya produksi CNG jauh lebih efisien, yakni sekitar 30 hingga 40 persen lebih murah dibandingkan LPG. Saat ini, pemerintah tengah menyiapkan pengembangan tabung CNG ukuran 3 kilogram dengan standar keamanan tinggi untuk menahan tekanan 200 hingga 250 bar. Meskipun beralih ke gas alam, pemerintah berkomitmen tetap mempertahankan skema subsidi agar harga jual CNG di tingkat masyarakat tetap setara dengan LPG subsidi saat ini, guna menjaga daya beli rumah tangga dan UMKM.
Kendati menawarkan efisiensi fiskal yang besar, implementasi CNG di skala nasional memerlukan investasi infrastruktur yang masif dan penyesuaian peralatan di sisi konsumen. Masyarakat nantinya membutuhkan regulator, kompor, dan tabung khusus yang kompatibel dengan spesifikasi tekanan gas alam. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah dan sektor industri sangat diperlukan untuk memfasilitasi masa transisi ini, sehingga kemandirian energi nasional dapat terwujud sekaligus memperkuat ruang fiskal untuk program produktif lainnya. Dikutip dari RRI.co.id







