Jakarta – Ludruk merupakan kesenian teater tradisional yang tumbuh subur di wilayah Jawa Timur dengan karakteristik unik yang menggabungkan unsur drama, humor, musik, dan kritik sosial. Tidak seperti teater klasik yang sering mengambil kisah istana, ludruk lebih fokus pada tema kehidupan sehari-hari, kisah perjuangan, serta sejarah lokal. Penggunaan bahasa Jawa dialek Jawa Timur yang lugas dan spontan menjadi ciri utama yang membuat pertunjukan ini terasa sangat dekat dengan masyarakat.
Dalam struktur pementasannya, ludruk selalu dibuka dengan penampilan tari remo yang kemudian diikuti oleh alunan gamelan sebagai musik pengiring utama. Daya tarik lainnya terletak pada kemampuan pemain dalam berimprovisasi dan berinteraksi secara langsung dengan para penonton. Di masa penjajahan, kesenian ini bahkan menjadi sarana penyampai pesan perlawanan dan aspirasi rakyat kepada pemerintah melalui banyolan yang cerdas sebagai bentuk sindiran sosial.
Hingga saat ini, upaya pelestarian ludruk terus dilakukan melalui berbagai komunitas aktif seperti Arboyo, Warna Budaya, dan Luntas yang gencar merekrut generasi muda. Pelestarian ini juga didukung oleh pemerintah dan lembaga pendidikan melalui berbagai pelatihan serta festival budaya. Kolaborasi antara pelaku seni dan pemerintah pusat maupun daerah diharapkan dapat menjaga keberlangsungan ludruk agar tetap eksis di tengah tantangan zaman modern. Dikutip dari RRI.co.id







