Tapanuli Utara – Kisah pilu datang dari penyintas banjir bandang di Sibolga, Sumatra Utara. Jondy Utara Aritonang, 62 tahun, menceritakan bagaimana dirinya terseret arus deras yang membawa gelondongan kayu besar saat berada di kampung halamannya, Desa Tanah Bolon, pada 24 November. Air awalnya hanya setinggi mata kaki, namun dalam beberapa menit melonjak hingga setinggi dada, menghantam rumah dan permukiman warga.
Jondy sempat berusaha menyelamatkan barang-barangnya sebelum terpaksa melompat dari teras rumah dan berenang menjauh. Tubuhnya terseret sekitar 100 meter, hingga akhirnya berhasil berpegangan pada pohon sawit kecil. Berkat bantuan adik dan iparnya, Jondy berhasil ditarik ke sebuah dapur rumah warga yang berada di tempat lebih tinggi, di mana ia bisa berdiri kembali dan beristirahat sejenak.
Meski memiliki riwayat jantung dengan lima ring terpasang, Jondy tetap harus berjuang bertahan hidup. Bersama sekitar 200 warga lainnya, ia mengungsi di sebuah bukit kecil tanpa penerangan, sinyal, atau bantuan makanan, dan mereka memasak bersama dari bahan seadanya.
Keesokan harinya, Jondy menempuh perjalanan kaki sekitar 8 kilometer menuju rumah pamannya di Ektolang untuk memastikan keluarganya di Balige selamat. Jalanan yang dilalui penuh lumpur, kayu gelondongan, serta hewan dan warga yang tertimbun. Meski handphone rusak, pakaian basah, dan tanpa makan, Jondy tetap berjalan sambil mencari sinyal untuk memberi kabar. Anak dan keluarganya sempat melaporkan kehilangan Jondy di media sosial, hingga akhirnya ia berhasil ditemukan di perbatasan Aceh Singkil dan dijemput keluarganya.
Kini, Jondy telah berkumpul kembali dengan keluarga, namun kampung halamannya di Tanah Bolon hancur total. Banyak rumah rata dengan tanah, termasuk rumah neneknya. Ia masih berharap kabar baik dari tetangga yang belum ditemukan dan menunggu pemulihan jaringan listrik serta komunikasi di daerah terdampak. Dikutip dari RRI.co.id





