Jakarta – Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) DKI Jakarta mencatat tren urbanisasi ke Ibu Kota masih didominasi oleh pencari kerja. Berdasarkan data terbaru, sekitar 34,97 persen pendatang baru masuk ke Jakarta dengan tujuan utama mencari lapangan pekerjaan, mengungguli alasan keluarga dan pendidikan. Kepala Dinas Dukcapil DKI Jakarta, Denny Wahyu Haryanto, mengungkapkan bahwa mayoritas pendatang berada pada usia produktif (15-64 tahun) dengan persentase mencapai 77,84 persen. Fenomena ini mempertegas bahwa Jakarta tetap menjadi magnet ekonomi yang kuat, didukung oleh kemudahan akses layanan publik seperti transportasi, kesehatan, dan pendidikan yang terintegrasi.
Meskipun minat merantau tetap tinggi, profil pendidikan para pendatang menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah. Sebanyak 78,71 persen pendatang tercatat berpendidikan SMA sederajat ke bawah, di mana sebagian besar terserap di sektor informal dan dikategorikan sebagai kelompok berpenghasilan rendah. Kondisi ini berdampak pada pola tempat tinggal, dengan sekitar 21,05 persen pendatang menetap di wilayah RW kumuh atau kawasan padat penduduk di perbatasan Jakarta. Data ini diharapkan menjadi acuan bagi Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk memperkuat program pembinaan UMKM serta mengonversi sektor informal menjadi lebih formal dan berdaya saing.
Menariknya, tren jumlah pendatang pasca-Lebaran di Jakarta menunjukkan penurunan konsisten sejak tahun 2022 hingga 2025. Denny menyebutkan bahwa pendatang saat ini cenderung memiliki persiapan yang lebih matang, mulai dari kepastian tempat tinggal hingga keterampilan kerja yang memadai sebelum mengadu nasib. Untuk memastikan akurasi data kependudukan, Dinas Dukcapil DKI terus melakukan layanan jemput bola hingga 30 April 2026. Hingga awal April ini, tercatat sudah ada 1.776 pendatang baru yang terdata, dengan komposisi jenis kelamin yang hampir seimbang antara laki-laki dan perempuan. Dikutip dari Antaranews.com






