Jakarta – Sutradara kenamaan Joko Anwar kembali menggebrak industri sinema dengan menggandeng enam ilustrator Indonesia berskala internasional untuk film terbarunya, Ghost in the Cell. Kolaborasi lintas medium ini bertujuan menciptakan instalasi kengerian, sebuah konsep seni visual yang menggabungkan keindahan artistik dengan nuansa horor yang mencekam sebagai elemen utama cerita. Dalam keterangan resminya pada Rabu (4/3), Joko Anwar menekankan bahwa langkah ini merupakan pernyataan penting mengenai urgensi kolaborasi antar-seniman demi memperkuat ekosistem kreatif lokal.
Keenam ilustrator yang terlibat bukan sosok sembarangan. Mereka adalah Anwita Citriya, Benediktus Budi, Benny Bennos Kusnoto, Coki Greenway, Hafidzjudin, dan Rudy AO. Masing-masing membawa keahlian khusus, mulai dari perancang makhluk (creature designer) yang pernah bekerja untuk DC dan Marvel, seniman poster band legendaris seperti AC/DC dan Judas Priest, hingga ahli pewarnaan digital komik internasional. Bersama Joko Anwar, mereka merancang bentuk visual yang merepresentasikan ketakutan kolektif masyarakat untuk diaplikasikan ke dalam adegan-adegan horor di film tersebut.
Ghost in the Cell sendiri mengangkat kisah teror hantu di dalam penjara Labuhan Angsana yang mengincar para narapidana berenergi negatif. Film ini telah menarik perhatian global setelah tayang perdana di Berlin International Film Festival (Berlinale). Saat ini, hak distribusi film tersebut telah dibeli oleh Well Go USA untuk wilayah Amerika Utara, serta akan menyusul tayang di Rusia, Spanyol, Taiwan, Thailand, hingga wilayah Jerman melalui Plaion Pictures. Kesuksesan distribusi internasional ini membuktikan bahwa kualitas visual sinematik hasil kolaborasi seniman lokal Indonesia mampu bersaing di panggung dunia. Dikutip dari Antaranews.com







