Jakarta – Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa, 13 Oktober 2026. Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda tercatat turun 0,18 persen atau terkoreksi 32 poin ke level Rp17.945 per dolar AS, melanjutkan tren pelemahan dari penutupan akhir pekan sebelumnya yang berada di posisi Rp17.913 per dolar AS. Penguatan indeks dolar AS ke level 102,58 ini didorong oleh meningkatnya permintaan aset safe haven akibat eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang turut memicu kenaikan harga minyak mentah dunia.
Analis Pasar Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memprakirakan pergerakan rupiah hari ini akan berada di kisaran Rp17.850 hingga Rp18.000 per dolar AS. Tekanan eksternal dari situasi global tersebut membuat mata uang rupiah tertekan di awal perdagangan. Meskipun demikian, para pelaku pasar tetap memantau perkembangan geopolitik global serta dampaknya terhadap stabilitas ekonomi domestik dan harga komoditas energi.
Di sisi lain, Analis Pasar Uang Mirae Asset Sekuritas, Jessica Tasijawa, mencermati bahwa tekanan pada nilai tukar belum memicu penyesuaian harga atau repricing yang luas di pasar obligasi domestik. Hal ini tercermin dari imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun yang relatif stabil di level 7,20 persen, sementara tenor 2 tahun bertahan di 6,78 persen. Adanya perbaikan aliran modal asing yang masuk ke SBN dinilai memberikan bantalan yang cukup kuat bagi pasar keuangan domestik di tengah tingginya tekanan eksternal saat ini. Dikutip dari rri.co.id






